Jumat, 18 Februari 2011

6.DOKUMENTASI KEPERAWATAN BERBASIS KOMPUTER

Pengertian Dokumentasi Keperawatan

Potter (2005) mendefenisikan dokumentasi sebagai segala sesuatu yang tercetak atau tertulis yang dapat diandalkan sebagai catatan tentang bukti bagi individu yang berwenang .
Dokumentasi keperawatan juga merupakan salah satu bentuk upaya membina dan mempertahankan akontabilitas perawat dan keperawatan (Webster New World Dictionary dalam Marelli (1996).
Pelaksanaan dokumentasi proses keperawatan juga sebagai salah satu alat ukur untuk mengetahui, memantau dan menyimpulkan suatu pelayanan asuhan keperawatan yang diselenggarakan di rumah sakit (Fisbach, 1991).

Tujuan Dokumentasi Keperawatan


Dokumentasi keperawatan yang lengkap adalah prasyarat dalam melaksanakan perawatan yang baik dan untuk efesiensi dari kerjasama dan komunikasi antar profesi kesehatan dalam pelayanan kesehatan professional. Dokumentasi keperawatan yang lengkap dan akurat akan memudahkan disiplin ilmu lain untuk menggunakan informasi di dalamnya. Dokumentasi diperlukan untuk memudahkan alur dan koordinasi dalam perawatan pasien ( Brunt/Serangan et al. 1999 dalam Gapko dawn yang diakses dari http://www.hhdev.psu.edu/nurs/). Dokumentasi keperawatan yang akurat dan lengkap telah sesuatu yang penting ketika berhadapan dengan pembayaran dan kwalitas pelayanan. Griffiths dan Hutchings ( 1999 dalam Gapko dawn yang diakses dari http://www.hhdev.psu.edu/nurs/).) menuliskan bahwa perawat merasakan bahwa dokumentasi tertulis mereka tidak dihargai. termasuk komunikasi verbal dengan profesi lain. karena komunikasi lisan yang tidak tertulis pada dokumentasi juga tidak dibayar. Alasan yang lain terhadap pentingnya dokumentasi ilmu perawatan yang akurat dan lengkap adalah berkaitan dengan urusan pengadilan.

Dokumentasi Keperawatan Berbasis Komputer.

Pengertian Computerized nursing documentation adalah suatu modul keperawatan yang dikombinasikan dengan sistem komputer rumah sakit ke staf perawat.Dengan sistem yang terkomputerisasi ini perawat dapat melakukan akses ke laboratorium, radiologi, fisioterapi, dan disiplin yang lain, seperti ahli gizi, fisioterapi, dan disiplin ilmu lain seperti ahli gizi, fisioterapis, occupational therapies. Pemikiran tentang dokumentasi keperawatan yang terkomputerisasi di buat dalam rangka memudahkan dan mempercepat pendoukmentasian asuhan keperawatan yang dibuat. Dengan sistem ini perawat lebih dapat menghemat waktu dan perawat akan lebih sering berada di samping pasien. Dengan dokumentasi yang terkomputerisasi ini pencatatan dapat dilakukan akurat dan lengkap,( Gapko dawn yang diakses dari http://www.hhdev.psu.edu/ nurs/) .
Pendokumentasian keperawatan yang tertulis (paper-based documentation) saat ini dilaporkan mutunya sangat rendah dan ini juga berdampak terhadap penerimaan publik termasuk profesi kesehatan yang lain terhadap profesinalisasi keperawatan di Indonesia. Menurut Griffiths dan Hutchings (1999 dalam Gapko Dawn yang diakses dari http://www.hhdev.psu.edu/nurs/), perawat yang menyatakan alasan terhadap dokumentasi yang kurang akurat dan kurang lengkap dihubungkan dengan permasalahan seperti kekurangan staf, sensus yang tinggi, lembur kerja, dan juga kurangya pengetahuan tentang apa yang dituliskan dalam dokumentasi.

Manfaat Dokumentasi keperawatan yang terkomputerisasi

Suatu studi idiselenggarakan di University Medical Center Heidelberg selama 18 bulan. Hasil dari studi menunjukkan adanya suatu peningkatan yang penting tentang kwantitas dan kwalitas dokumentasi. Aspek positif meliputi kelengkapan dari dokumentasi keperawatan, Aspek yang formal dan peningkatan kwalitas hubungan antar perawat. Aspek yang negatif adalah berkaitan dengan contens dari rencana keperawatan (Cornelia,et all ,2007).
Electronik health Record dilaporkan memiliki manfaat sebagai berikut
  • Penghematan biaya dari penggunaan kertas untuk pencatatan,
  • Tidak perlu gudang yang besar dalam penyimpanan arsip
  • Penyimpanan data (Record) pasien menjadi lebih lama
  • EHR yang dirancang dengan baik akan mendukung ototnomi yang dapat dipertanggung jawabkan
  • Membantu dalam mencari informasi yang cepat sehingga dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang cepat
  • Meningkatkan produktivitas bekerja
  • Mengurangi kesalahan dalam menginterprestasikan pencatatan. (Gurley L, Advantages and Disadvantages of the Electronic Medical Record , diakses dari http://www.aameda.org/memberservices/Exec/Articles/pada tanggal 13 maret 2008
Sedangkan menurut Holmas (2003, dalam Sitorus 2006) terdapat beberapa keuntungan utama dari dokumentasi berbasis komputer yaitu:
  • Standarisasi, terdapat pelaporan data klinik yang standar yang mudah dan cepat diketahui
  • Kualitas, meningkatkan kualitas informasi klinik dan sekaligus meningkatkan waktu perawat berfokus pada pemberian asuhan
  • Accessibility, legibility, mudah membaca dan mendapat informasi klinik tentang semua pasien dan suatu lokasi

5.SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN BERBASIS KOMPUTER

Seiring dengan globalisasi, perkembangan pengetahuan dan teknologi, pengetahuan masyarakat tentang kesehatan juga mulai berkembang. Perkembangan pengetahuan masyarakat membuat masyarakat lebih menuntut pelayanan kesehatan yang bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perawat sebagai salah satu tenaga yang mempunyai kontribusi besar bagi pelayanan kesehatan, mempunyai peranan penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dalam upaya peningkatan mutu, seorang perawat harus mampu melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar, yaitu mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi berikut dengan dokumentasinya.

Pendokumentasian Keperawatan merupakan hal penting yang dapat menunjang pelaksanaan mutu asuhan keperawatan. (Kozier,E. 1990). Selain itu dokumentasi keperawatan merupakan bukti akontabilitas tentang apa yang telah dilakukan oleh seorang perawat kepada pasiennya. Dengan adanya pendokumentasian yang benar maka bukti secara profesional dan legal dapat dipertanggung jawabkan

Masalah yang sering muncul dan dihadapi di Indonesia dalam pelaksanaan asuhan keperawatan adalah banyak perawat yang belum melakukan pelayanan keperawatan sesuai standar asuhan keperawatan. Pelaksanaan asuhan keperawatan juga tidak disertai pendokumentasian yang lengkap.
( Hariyati, RT., th 1999)

Saat ini masih banyak perawat yang belum menyadari bahwa tindakan yang dilakukan harus dipertanggungjawabkan. Selain itu banyak pihak menyebutkan kurangnya dokumentasi juga disebabkan karena banyak yang tidak tahu data apa saja yang yang harus dimasukkan, dan bagaimana cara mendokumentasi yang benar.( Hariyati, RT., 2002)

Kondisi tersebut di atas membuat perawat mempunyai potensi yang besar terhadap proses terjadinya kelalaian pada pelayanan kesehatan pada umumnya dan pelayanan keperawatan pada khususnya. Selain itu dengan tidak ada kontrol pendokumentasian yang benar maka pelayanan yang diberikan kepada pasien akan cenderung kurang baik, dan dapat merugikan pasien

Pendokumentasian asuhan keperawatan yang berlaku di beberapa rumah sakit di Indonesia umumnya masih menggunakan pendokumentasian tertulis. Pendokumentasian tertulis ini sering membebani perawat karena perawat harus menuliskan dokumentasi pada form yang telah tersedia dan membutuhkan waktu banyak untuk mengisinya. Permasalahan lain yang sering muncul adalah biaya pencetakan form mahal sehingga sering form pendokumentasian tidakPendokumentasian secara tertulis dan manual juga mempunyai kelemahan yaitu sering hilang. Pendokumentasian yang berupa lembaran-lembaran kertas maka dokumentasi asuhan keperawatan sering terselip. Selain itu pendokumentasian secara tertulis juga memerlukan tempat penyimpanan dan akan menyulitkan untuk pencarian kembali jika sewaktu-waktu pendokumentasian tersebut diperlukan. Dokumentasi yang hilang atau terselip di ruang penyimpanan akan merugikan perawat. Hal ini karena tidak dapat menjadi bukti legal jika terjadi suatu gugatan hukum, dengan demikian perawat berada pada posisi yang lemah dan rentan terhadap gugatan hukum.

Di luar negri kasus hilangnya dokumentasi serta tidak tersedianya form pengisian tidak lagi menjadi masalah. Hal ini karena pada rumah sakit yang sudah maju seluruh dokumentasi yang berkaitan dengan pasien termasuk dokumentasi asuhan keperawatan telah dimasukkan dalam komputer. Dengan informasi yang berbasis dengan komputer diharapkan waktu pengisian form tidak terlalu lama, lebih murah, lebih mudah mencari data yang telah tersimpan dan resiko hilangnya data dapat dikurangi serta dapat menghemat tempat karena dapat tersimpan dalam ruang yang kecil yang berukuran 10 cm x 15 cm x 5 cm . Sistem ini sering dikenal dengan Sistem informasi manjemen.

Sistem informasi merupakan suatu kumpulan dari komponen-komponen dalam organisasi yang berhubungan dengan proses penciptaan dan pengaliran informasi. Sistem Informasi mempunyai komponen- komponen yaitu proses, prosedur, struktur organisasi, sumber daya manusia, produk, pelanggan, supplier, dan rekanan. (Eko,I. 2001).

Sistem informasi keperawatan adalah kombinasi ilmu komputer, ilmu informasi dan ilmu keperawatan yang disusun untuk memudahkan manajemen dan proses pengambilan informasi dan pengetahuan yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan (Gravea & Cococran,1989.

4.PEMANFAATAN TEKNOLOGI PADA RISET KEPERAWATAN

Perkembangan teknologi informasi merupakan salah satu perkembangan peradaban manusia mengenai penyampaian informasi. Perkembangan ini dimulai sejak zaman pra sejarah sampai sekarang. Salah satu peran perawat adalah sebagai peneliti. Untuk itu, perawat perlu melakukan riset yang berhubungan isu-isu keperawatan, antara lain: praktik keperawtan, pendidikan keperawatan, dan administrasi keperawatan guna meningkatkan kemampuannya. Untuk memudahkan riset yang dilakukan maka perawat perlu memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang sudah ada baik dalam hal pengolahan data, penulisan, penyimpanan, atau pun publikasi hasil riset yang telah perawat lakukan.


Perkembangan teknologi informasi mulai merambah dunia keperawatan. Kebutuhan layanan kesehatan juga termasuk keperawatan yang cepat, efisien dan efektif menjadi tuntutan masyarakat modern saat ini. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, istilah telemedicine, telehealth dan telenursing menjadi popular sebagai salah satu model layanan kesehatan. (Martono N. www.inna.ppni.org .2006).

Teknologi informasi dapat dimanfaatkan dalam bidang perkembangan riset keperawatan berbasis informatika kesehatan. Dapat juga digunakan dikampus dengan video conference, pembelajaran on line dan Multimedia Distance Learning. Pengolahan data dalam riset keperawatan perlu ketelitian, dengan perhitungan menggunakan teknologi informasi yang sudah ada maka kesalahan dalam perhitungan dapat diminimalkan agar  dasar-dasar keilmuan yang nantinya akan menjadi landasan dalam kegiatan praktik klinik, pendidikan, dan menejemen keperawatan dapat diperkuat.

Penggunaan teknologi informasi dalam riset keperawatan juga untuk pendokumentasian hasil riset yang telah dilakukan. Setelah itu, perlu mempublikasikan hasil riset keperawatan sebagai ilmu untuk perawat lain dan masyarakat tentang hal yang berkaitan dengan isu keperawatan. Semua proses yang dibutuhkan dalam melakukan riset keperawtan pun akan lebih mudah dan efektif.


Seiring dengan pesatnya kebutuhan akan penggunaan teknologi informasi, perawat juga perlu berpartisipasi memanfaatkan teknologi yang sudah ada agar kegiatan yang dilakukan menjadi lebih efisien, salah satunya untuk riset keperawatan. Penggunaan teknologi informasi dalam riset keperawatan dapat digunakan untuk pengolahan data, penulisan hasil riset,  penyimpanan, metode baru dalam pendokumentasian, peningkatan akses informasi, pengembangkan kemampuan pengambilan keputusan yang dapat membantu melakukan perubahan dalam profesionalisasi perawat serta publikasi hasil riset keperawatan.

Sebagai perawat yang mampu mengikuti perkembangan zaman, guna meningkatkan profesionalisme dan kemampuan maka pemanfaatan teknologi harus benar-benar digunakan untuk kegiatan yang dilakukan oleh perawat termasuk melakukan riset.


3.PERAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENDUKUNG MENEJMEN INFORMASI KESEHATAN DIRUMAH SAKIT

. Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah merambah ke berbagai sektor termasuk kesehatan. Meskipun dunia kesehatan (dan medis) merupakan bidang yang bersifat information-intensive, akan tetapi adopsi teknologi informasi relatif tertinggal. Sebagai contoh, ketika transaksi finansial secara elektronik sudah menjadi salah satu prosedur standar dalam dunia perbankan, sebagian besar rumah sakit di Indonesia baru dalam tahap perencanaan pengembangan billing system. Meskipun rumah sakit dikenal sebagai organisasi yang padat modal-padat karya, tetapi investasi teknologi informasi masih merupakan bagian kecil. Di AS, negara yang relatif maju baik dari sisi anggaran kesehatan maupun teknologi informasinya, rumah sakit rerata hanya menginvestasinya 2% untuk teknologi informasi.
reader, maupun alat digitasi lain dari bentuk analog ke digital). Perangkat keras ini bertujuan untuk menerima masukan data/informasi ke dalam bentuk digital agar dapat diolah melalui perangkat komputer. Selanjutnya, terdapat perangkat keras pemroses lebih dikenal sebagai CPU (central procesing unit) dan memori komputer. Perangkat keras ini berfungsi untuk mengolah serta mengelola sistem komputer dengan dikendalikan oleh sistem operasi komputer. Selain itu, terdapat juga perangkat keras penyimpan data baik yang bersifat tetap (hard disk) maupun portabel (removable disk). Perangkat keras berikutnya adalah perangkat outuput yang menampilkan hasil olahan komputer kepada pengguna melalui monitor, printer, speaker, LCD maupun bentuk respon lainnya. Selanjutnya dalam perangkat lunak dibedakan sistem operasi (misalnya Windows, Linux atau Mac) yang bertugas untuk mengelola hidup matinya komputer, menhubungkan media input dan output serta mengendalikan berbagai perangkat lunak aplikasi maupun utiliti di komputer. Sedangkan perangkat aplikasi adalah program praktis yang digunakan untuk membantu pelaksanaan tugas yang spesifik seperti menulis, membuat lembar kerja, membuat presentasi, mengelola database dan lain sebagainya. Selain itu terdapat juga program utility yang membantu sistem operasi dalam pengelolaan fungsi tertentu seperti manajemen memori, keamanan komputer dan lain-lain.
Pada aspek infrastruktur, kita mengenal ada istilah jaringan komputer baik yang bersifat terbatas dan dalam kawasan tertentu (misalnya satu gedung) yang dikenal dengan nama Local Area Network maupun jaringan yang lebih luas, bahkan bisa meliputi satu kabupaten atau negara atau yang dikenal sebagai Wide Area Network (WAN). Saat ini, aspek infrastruktur dalam teknologi informasi seringkali disatukan dengan perkembangan teknologi komunikasi. Sehingga muncul istilah konvergensi teknologi informasi dan komunikasi. Perangkat PDA (personal digital assistant) yang berperan sebagai komputer genggam tetapi sarat dengan fungsi komunikasi (baik Wi-Fi, bluetooth maupun GSM) merupakan salah satu contoh diantaranya.
Rekam medis berbasis komputer (Computer based patient record)
Salah satu tantangan besar dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi di rumah sakit adalah penerapan rekam medis medis berbasis komputer. Dalam laporan resminya, Intitute of Medicine mencatat bahwa hingga saat ini masih sedikit bukti yang menunjukkan keberhasilan penerapan rekam medis berbasis komputer secara utuh, komprehensif dan dapat dijadikan data model bagi rumah sakit lainnya[1].
Pengertian rekam medis berbasis komputer bervariasi, akan tetapi, secara prinsip adalah penggunaan database untuk mencatat semua data medis, demografis serta setiap event dalam manajemen pasien di rumah sakit. Rekam medis berbasis komputer akan menghimpun berbagai data klinis pasien baik yang berasal dari hasil pemeriksaan dokter, digitasi dari alat diagnosisi (EKG, radiologi, dll), konversi hasil pemeriksaan laboratorium maupun interpretasi klinis. Rekam medis berbasis komputer yang lengkap biasanya disertai dengan fasilitas sistem pendukung keputusan (SPK) yang memungkinkan pemberian alert, reminder, bantuan diagnosis maupun terapi agar dokter maupun klinisi dapat mematuhi protokol klinik.
Gambar 1. Alert tentang permintaan lab yang berlebihan dalam salah satu model aplikasi rekam medis berbasis komputer B.2. Teknologi penyimpan data portable
Salah satu aspek penting dalam pelayanan kesehatan yang menggunakan pendekatan rujukan (referral system) adalah continuity of care. Dalam konsep ini, pelayanan kesehatan di tingkat primer memiliki tingkat konektivitas yang tinggi dengan tingkat rujukan di atasnya. Salah satu syaratnya adalah adanya komunikasi data medis secara mudah dan efektif. Beberapa pendekatan yang dilakukan menggunakan teknologi informasi adalah penggunaan smart card (kartu cerdas yang memungkinkan penyimpanan data sementara). Smart card sudah digunakan di beberapa negara Eropa maupun AS sehingga memudahkan pasien, dokter maupun pihak asuransi kesehatan. Dalam smart card tersebut, selain data demografis, beberapa data diagnosisi terakhir juga akan tercatat. Teknologi penyimpan portabel lainnya adalah model web based electronic health record yang memungkinkan pasien menyimpan data sementara kesehatan mereka di Internet. Data tersebut kemudian dapat diakses oleh dokter atau rumah sakit setelah diotorisasi oleh pasien. Teknologi ini merupakan salah satu model aplikasi telemedicine yang tidak ber
Aplikasi penyimpan data portabel sederhana adalah bar code (atau kode batang). Kode batang ini sudah jamak digunakan di kalangan industri sebagai penanda unik merek datang tertentu. Hal ini jelas sekali mempermudah supermarket dan gudang dalam manajemen retail dan inventori. Food and Drug Administration (FDA) di AS telah mewajibkan seluruh pabrik obat di AS untuk menggunakan barcode sebagai penanda obat. Penggunaan bar code juga akan bermanfaat bagi apotik dan instalasi farmasi di rumah sakit dalam mempercepat proses inventori. Selain itu, penggunaan barcode juga dapat digunakan sebagai penanda unik pada kartu dan rekam medis pasien.
Teknologi penanda unik yang sekarang semakin populer adalah RFID (radio frequency identifier) yang memungkinkan pengidentifikasikan identitas melalui radio frekuensi. Jika menggunakan barcode, rumah sakit masih memerlukan barcode reader, maka penggunaan RFID akan mengeliminasi penggunaan alat tersebut. Setiap barang (misalnya obat ataupun berkas rekam medis) yang disertai dengan RFID akan mengirimkan sinyal terus menerus ke dalam database komputer. Sehingga pengidentifikasian akan b Teknologi nirkabel
Pemanfaatan jaringan computer dalam dunia medis sebenarnya sudah dirintis sejak hampir 40 tahun yang lalu. Pada tahun 1976/1977, University of Vermon Hospital dan Walter Reed Army Hospital mengembangkan local area network (LAN) yang memungkinkan pengguna dapat log on ke berbagai komputer dari satu terminal di nursing station. Saat itu, media yang digunakan masih berupa kabel koaxial. Saat ini, jaringan nir kabel menjadi primadona karena pengguna tetap tersambung ke dalam jaringan tanpa terhambat mobilitasnya oleh kabel. Melalui jaringan nir kabel, dokter dapat selalu terkoneksi ke dalam database pasien tanpa harus terganggun mobilitasnya.
B. 4. Komputer genggam (Personal Digital Assistant)
Saat ini, penggunaan komputer genggam (PDA) menjadi hal yang semakin lumrah di kalangan medis. Di Kanada, limapuluh persen dokter yang berusia di bawah 35 tahun menggunakan PDA. PDA dapat digunakan untuk menyimpan berbagai data klinis pasien, informasi obat, maupun panduan terapi/penanganan klinis tertentu. Beberapa situs di Internet memberikan contoh aplikasi klinis yang dapta digunakan di PDA seperti epocrates. Pemanfaatan PDA yang sudah disertai dengan jaringan telepon memungkinkan dokter tetap dapat memiliki akses terhadap database pasien di rumahs akit melalui jaringan Internet. Salah satu contoh penerapan teknologi telemedicine adalah pengiriman data radiologis pasien yang dapat dikirimkan secara langsung melalui jaringan GSM. Selanjutnya dokter dapat memberikan interpretasinya secara langsung PDA dan memberikan feedback kepada rumah sakit.
erjalan secara otomatis.

jalan secara real time.

2.SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN DIPUSKESMAS

Puskesmas sebagai salah satu institusi pelayanan umum, dapat dipastikan membutuhkan keberadaan sistem informasi yang akurat dan handal, serta cukup memadai untuk meningkatkan pelayanan puskesmas kepada para pengguna (pasien) dan lingkungan terkait. Dengan lingkup pelayanan yang begitu luas, tentunya banyak sekali permasalahan kompleks yang terjadi dalam proses pelayanan di puskesmas. Banyaknya variabel di puskemas turut menentukan kecepatan arus informasi yang dibutuhkan oleh pengguna dan lingkungan puskesmas.
Selama ini banyak puskesmas yang masih mengelola data-data kunjungan pasien, data-data arus obat, dan juga membuat pelaporan dengan menggunakan cara-cara yang manual. Selain membutuhkan waktu yang lama, keakuratan dari pengelolaan data juga kurang dapat diterima, karena kemungkinan kesalahan sangat besar. Beberapa puskesmas mungkin sudah memakai komputer sebagai alat bantu untuk pengelolaan data, hanya saja sampai sekarang belum banyak program komputer yang secara khusus didesain untuk manajemen data di puskesmas.
SIMPUS dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi yang secara umum banyak dijumpai di puskesmas. SIMPUS mempunyai tunjuan pengembangan yang jelas, antara lain :
· Terbangunnya suatu perangkat lunak yang dapat digunakan dengan mudah oleh puskesmas, dengan persyaratan yang seminimal mungkin dari segi perangkat keras maupun dari segi sumber daya manusia yang akan menggunakan perangkat lunak tersebut.
· Membantu dalam mengolah data puskesmas dan dalam pembuatan berbagai pelaporan yang diperlukan.
· Terbangunnya suatu sistem database untuk tingkat kabupaten, dengan memanfaatkan data-data kiriman dari puskesmas.
· Terjaganya data informasi dari puskesmas dan Dinas Kesehatan sehingga dapat dilakukan analisa dan evaluasi untuk berbagai macam penelitian.
· Terwujudnya unit informatika di Dinas Kesehatan Kabupaten yang mendukung terselenggaranya proses administrasi yang dapat meningkatkan kwalitas pelayanan dan mendukung pengeluaran kebijakan yang lebih bermanfaat untuk masyarakat.
Berbagai kendala dalam implementasi SIMPUS ataupun program aplikasi yang sudah pernah dialami di berbagai daerah ikut menjadi masukkan untuk menentukan model pengembangan SIMPUS. Kendala-kendala yang secara umum sering dijumpai di puskesmas antara lain :
· Kendala di bidang Infrastruktur
Banyak puskesmas yang hanya memiliki satu atau dua komputer, dan biasanya untuk pemakaian sehari-hari di puskesmas sudah kurang mencukupi. Sudah mulai banyak pelaporan-pelaporan yang harus ditulis dengan komputer. Komputer lebih berfungsi sebagai pengganti mesin ketik semata. Selain itu kendala dari sisi sumber daya listrik juga sering menjadi masalah. Puskesmas di daerah-daerah tertentu sudah biasa menjalani pemadaman listrik rutin sehingga pengoperasian komputer menjadi terganggu. Dari segi keamanan, banyak gedung puskesmas yang kurang aman, sering terjadi puskesmas kehilangan perangkat komputer.
· Kendala di bidang Manajemen
Masih jarang sekali ditemukan satu orang staf atau petugas atau bahkan unit kerja yang khusus menangani bidang data/komputerisasi. Hal ini dapat dijumpai dari tingkat puskesmas ataupun tingkat dinas kesehatan di kabupaten/kota. Pada kondisi seperti ini nantinya akan menjadi masalah untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas data-data yang akan ada, baik dari segi pengolahan dan pemeliharaan data, maupun dari segi koordinasi antar bagian.
· Kendala di bidang Sumber Daya Manusia
Kendala di bidang SDM ini yang paling sering ditemui di puskesmas. Banyak staf puskesmas yang belum maksimal dalam mengoperasikan komputer. Biasanya kemampuan operasional komputer didapat secara belajar mandiri, sehingga tidak maksimal. Belum lagi dengan pemakaian komputer oleh staf yang kadang-kadang tidak pada fungsi yang sebenarnya.
APLIKASI SIMPUS
Dengan melihat berbagai tujuan dan berbagai kendala diatas, SIMPUS dikembangkan. Kondisi-kondisi yang ada benar-benar menjadi pertimbangan rancangan Aplikasi SIMPUS. Hal utama yang harus diketahui dari SIMPUS ini adalah :
SIMPUS adalah program aplikasi yang dikembangkan khusus dari puskesmas, untuk puskesmas dengan melihat kebutuhan dan kemampuan puskesmas dalam mengelola, mengolah dan memelihara data-data yang ada.
SIMPUS adalah aplikasi yang bersifat single user atau hanya dapat diaplikasikan hanya oleh satu orang pada saat itu. SIMPUS bukan aplikasi multi user yang memungkinkan satu database diolah bersama-sama oleh beberapa staf, dari beberapa ruang pelayanan yang ada di puskesmas.
Dengan luasnya lingkup pekerjaan di puskesmas, maka SIMPUS nantinya akan dikembangkan secara modular, atau terpisah antara program kerja yang satu dengan program kerja yang lain.
Beberapa hal mengenai SIMPUS antara lain :
· Menggunakan Sistem Operasi Windows, menampilkan tampilan secara grafis dan mudah digunakan. Untuk proses keluaran data bahkan hampir semua tampilan bisa di akses dengan menggunakan tetikus (mouse).
· Menyimpan informasi riwayat kunjungan dari pasien dengan akurat. Penomoran Index yang tepat dan benar akan lebih mempermudah dalam proses pencarian data pasien tertentu.
· Input data yang cepat, dengan sumber data dari kartu registrasi pasien. Desain masukkan data yang dikembangkan dengan mengacu pada pengalaman di puskesmas menjadi pertimbangan utama untuk membuat proses entry harus cepat. Dalam kondisi normal hanya butuh waktu dibawah 1 menit untuk memasukkan satu data pasien.
· Dapat menampilkan rekapitulasi data pasien dan obat, serta membuat pelaporan LB1 dan LPLPO dengan cepat. Periode keluaran data dapat ditetapkan sesuai dengan kebutuhan, dari data harian, periode harian, mingguan, bulanan atau tahunan.
· Dapat menampilkan data 10 Besar / 20 Besar penyakit dengan cepat.
· Menampilkan data-data keluaran secara tabel maupun secara grafik dengan cepat.
· Dapat digunakan untuk melakukan filter data kunjungan dengan cepat dan mudah, sesuai dengan kriteria yang diinginkan.
METODOLOGI PENGEMBANGAN
Pengembangan suatu sistem informasi, jelas membutuhkan langkah-langkah dan strategi yang harus dijalankan. Pengembangan tidak dapat dilakukan dengan hanya membeli satu perangkat lunak kemudian dibagikan ke puskesmas yang ada, tetapi juga harus diikuti dengan berbagai langkah secara organisatoris maupun secara operasional. Langkah-langkah pengembangan dapat berupa program pra-implementasi dan program pasca-implementasi. Beberapa langkah yang harus dilakukan antara lain :
1. Pendataan awal berbagai masalah baik dari segi perangkat keras ataupun calon petugas data.
2. Pembentukan team informasi baik tingkat puskesmas atau tingkat dinas kesehatan. Team untuk tingkat puskesmas dapat terdiri dari seorang penanggung jawab program, disertai beberapa operator. Sedangkan untuk tingkat dinas kesehatan, mungkin diperlukan satu team khusus untuk mengorganisir alur data dan juga bertanggung jawab untuk manajemen data-data kesehatan. Apabila dimungkinkan dapat dibentuk satu sub dinas Informatika / Pengolahan Data Elektronik.
3. Inventarisasi data-data dasar, baik untuk tingkat puskesmas ataupun tingkat dinas kesehatan. Data-data dasar itu antara lain : data puskesmas, data petugas medis, data tempat pelayanan kesehatan, data obat-obat gudang farmasi, data diagnosis, dan beberapa data-data dasar lainnya. Data-data ini nantinya akan dikodekan karena SIMPUS akan banyak membutuhkan masukkan data berupa kode.
4. Sosialisasi data-data dasar. Hal ini perlu dilakukan ke semua staf medis dan petugas di puskesmas supaya lebih mengenal sedini mungkin sistem yang akan dipakai.
5. Pelatihan petugas SIMPUS. Dalam proses masukkan data, tentunya dibutuhkan petugas khusus yang benar-benar menguasai program SIMPUS. Untuk itu perlu minimal 2 orang dari tiap puskesmas yang harus di beri pelatihan untuk awal pelaksanaan implementasi SIMPUS. Setelah beberapa saat di implementasikan, maka diharapkan staf-staf puskesmas dapat belajar dari petugas yang sudah menguasai.
6. Ujicoba implementasi. Hal ini dibutuhkan untuk mencoba semua staf, dalam pengisian lembar registrasi pasien, juga untuk mengasah ketrampilan masukkan data dari petugas yang sudah dilatih.
7. Evaluasi, dilakukan untuk mencari masukkan dan juga memberi masukkan kepada semua pihak yang terkait dalam pengembangan SIMPUS.
BIAYA PENGEMBANGAN
Biaya pengembangan sistem informasi tergantung dari banyaknya puskesmas di tingkat kabupaten beserta kelengkapan fasilitas dari program aplikasi untuk tingkat kabupaten.
· Harga program SIMPUS sebesar Rp. 1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah). Harga belum termasuk pembuatan peta wilayah untuk puskesmas. Harga dasar bisa berubah tergantung dari lokasi puskesmas.
· Harga program SIM Dinkes sebesar Rp. 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah), harga termasuk pembuatan gambar peta wilayah untuk pengembangan program sampai fungsi pemetaan penyakit.
· Untuk pelatihan petugas operator program SIMPUS, biaya per puskesmas adalah Rp. 1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah) untuk Simpus Single User, Rp. 2.000.000,00 (dua juta rupiah) untuk Simpus Web based. Setiap puskesmas dapat mengirimkan dua calon operator.
· Harga belum termasuk transportasi Yogyakarta-daerah tujuan, akomodasi, penginapan beserta Lumpsum untuk trainer sebesar Rp. 750.000,00 (Pulau Jawa) atau Rp. 1 500.000,00 (Luar Pulau Jawa) per hari.
· Apabila dikehendaki, dapat dilakukan kunjungan untuk evaluasi dan supervisi per puskesmas, dengan menambah biaya transportasi, akomodasi dan lumpsum.
· Perkiraan harga komputer dan printer dengan spesifikasi yang layak untuk digunakan software SIMPUS : Rp. 3 500 000,00 – Rp. 4 500 000,00
SPESIFIKASI KOMPUTER SIMPUS
Spesifikasi minimal komputer yang digunakan untuk menjalankan Program SIMPUS dengan baik :
1. Prosesor : Pentium III atau di atasnya
2. RAM : 128 Mb atau lebih
3. VGA : 4 Mb atau lebih
4. Hard disk : Minimal 10 Gb
Spesifikasi minimal untuk komputer yang digunakan sebagai pengolah data di Dinas Kesehatan
1. Prosesor : Pentium IV
2. RAM : 512 Mb atau lebih
3. VGA : 4 Mb atau lebih
4. Hard disk : Minimal 40 Gb
Tentunya dengan kondisi perkembangan teknologi komputer dewasa ini, bukan masalah yang berat untuk mengadakan komputer dengan spesifikasi tersebut. Apabila memungkinkan bahkan dapat digunakan masing-masing dua komputer atau lebih di puskesmas untuk lebih mempercepat proses pengetikan data ke dalam SIMPUS. Untuk transfer data di puskesmas, selain menggunakan disket atau flash disk, juga dapat dihubungan dengan jaringan komputer.

1.SEJARAH PERKEMBANGAN KOMPUTER DALAM KEPERAWATAN

Perspektif Sejarah
Komputer telah dikenal sekitar lima puluh tahun yang lalu, tetapi rumah sakit lambat dalam menangkap revolusi komputer. Saat ini hampir setiap rumah sakit menggunakan jasa komputer, setidaknya untuk manajemen keuangan.
Perawat terlambat mendapatkan manfaat dari komputer, usaha pertama dalam menggunakan komputer oleh perawat pada akhir tahun 1960-an dan 1970-an mencakup:
1. Automatisasi catatan perawat untuk menjelaskan status dan perawatan pasien.
2. Penyimpanan hasil sensus dan gambaran staf keperawatan untuk analisa kecenderungan masa depan staf.
Pada pertengahan tahun 1970-an, ide dari sistem informasi rumah sakit (SIR) diterapkan, dan perawat mulai merasakan manfaat dari sistem informasi manajemen. Pada akhir tahun 1980-an memunculkan mikro-komputer yang berkekuatan besar sekali dan perangkat lunak untuk pengetahuan keperawatan seperti sistem informasi manajemen keperawatan (SIMK)
Perkembangan teknologi informasi dewasa ini di Indonesia belum secara luas dimanfaatkan  dengan baik oleh perawat khususnya di pelayanan rumah sakit, terutama pelayanan keperawatan.
Tenaga perawat sebagai salah satu tenaga yang mempunyai kontribusi besar bagi pelayanan kesehatan, mempunyai peranan penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, seorang perawat harus mampu melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar, yaitu dari mulai pengkajian sampai dengan evaluasi dan yang sangat penting adalah disertai dengan sistem pendokumentasian yang baik. Namun pada realitanya dilapangan, asuhan keperawatan yang dilakukan masih bersifar manual dan konvensional, belum disertai dengan sistem /perangkat tekhonolgi yang memadai. Contohnya dalam hal pendokumentasian asuhan keperawatan masih manual, sehingga perawat mempunyai potensi yang besar terhadap proses terjadinya kelalaian dalam praktek. Dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, maka sangat dimungkinkan bagi perawat untuk memiliki sistem pendokumentasian asuhan keperawatan yang lebih baik dengan menggunakan Sistem Informasi Manajemen.
Salah satu bagian dari perkembangan teknologi dibidang informasi yang sudah mulai dipergunakan oleh kalangan perawat di dunia internasional adalah teknologi PDA ( personal digital assistance. Di masa yang akan datang, pelayanan kesehatan akan dipermudah dengan pemanfaatan personal digital assistance (PDA). Perawat, dokter, bahkan pasien akan lebih mudah mengakses data pasien serta informasi perawatan terakhir.

Sabtu, 22 Januari 2011

Dampak teknologi terhadap kesehatan kita

Kita sekarang memiliki akses ke lebih banyak informasi, lebih banyak orang, lebih banyak tempat dari sebelumnya. Tetapi apakah itu baik untuk otak dan tubuh kita?
Ini adalah kenyataan hidup dalam tiga dekade terakhir, kita telah menjadi penghuni dunia digital dan hal ini bermanfaat terhadap  kesehatan kita dalam banyak hal. Kita yang baru didiagnosa dengan kondisi kesehatan tertentu (atau hanya bertanya-tanya apa yang salah) dapat menemukan jawaban hanya dengan beberapa klik. Namun ada juga hal-hal buruknya, mari kita baca dan temukan solusi dari para ahli untuk menghindarinya.
Kita memiliki akses ke lebih banyak informasi kesehatan dan pendukungnya jika kita sedang berhadapan dengan penyakit yang kita derita. Selain dapat mencari info mengenai penyakit-penyakit di internet, kita juga dapat memanfaatkan fitur aplikasi smartphone untuk mengingatkan jadwal minum obat, perencanaan pola makan dan rutinitas olahraga.
"Menggunakan teknologi untuk membantu orang mendapatkan kesehatannya sangat menarik," kata Giselle Mosnaim, MD, dari Rush University Medical Center di Chicago, yang menggunakan pesan peer-to-peer pada MP3 player untuk membantu remaja mengingat obat asma mereka.
Namun ada efek samping teknologi juga terhadap kesehatan, yang menyebabkan sakit, nyeri, pandangan kabur dan sejumlah gangguan pengeliatan lain, dan masalah kurangnya pendengaran.
"Bila digunakan dengan cara yang benar, teknologi luar biasa kuat dalam mengubah hidup kita menjadi lebih baik," kata Alan Hedge, PhD, direktur Universitas Cornell Human Faktor  dan Ergonomi Program. "Tetapi manusia tidak dirancang untuk dipasang ke komputer sepanjang hari." Jadi, apa yang manusia harus lakukan? Untungnya, ada beberapa solusi.


1. Masalah Pendengaran 



Jangan mendengarkan musik terlalu keras volumenya
Jangan mendengarkan musik terlalu keras volumenya
Orang tua memperingatkan anak-anak tentang musik keras yang bisa menyebabkan kehilangan pendengaran. Untungnya, kebanyakan dari kita bisa mendengar baik-baik saja bahkan jika kita berdiri tepat di samping dentuman speaker rock band favorit kita. Tetapi studi menunjukkan bahwa gangguan pendengaran sekarang meningkat, karena populasi yang menua  telah mengalami kebisingan terus -menerus.
Sekitar 16 persen orang dewasa memiliki masalah pendengaran saat seseorang berbicara, dan diperkirakan 55 juta orang dewasa di atas usia 20 tahun telah kehilangan beberapa pendengaran frekuensi tinggi. Apakah kita pada risiko yang lebih besar hari ini karena kita terikat dua puluh empat jam, tujuh hari seminggu untuk mendengarkan MP3 kita? Mungkin.

Semakin bertambah usia kita, beberapa gangguan pendengaran tidak bisa dihindari akibat sel-sel halus dari telinga bagian dalam yang mengirimkan suara ke otak kehilangan fungsi. Tapi yang terkena suara keras terus-menerus, seperti musik yang didengarkan dengan volume tinggi, dapat menyebabkan sel-sel mati lebih cepat, kata Brian Fligor, ScD, direktur Audiologi diagnostik di Children's Hospital Boston.
Kerusakan pendengaran banyak tergantung pada kepekaan seseorang, genetika,  berapa lama dan keras volume lagu yang didengarkan.
Penelitian Dr Fligor menunjukkan bahwa 5 sampai 25 persen dari kita membiarkan MP3 player di setting terlalu tinggi. "Ketika menggunakan iPod atau MP3 player, saya memberitahu orang-orang,  “Anda dapat mendengarkan beberapa lagu keras, tetapi Anda tidak dapat mendengarkan lagu keras sepanjang hari.” kata Dr Fligor yang ternyata juga adalah mantan gitaris rock.

Lindungi Diri Anda: Bila Anda tipe orang yang selalu memutar MP3 saat sedang memakai komputer, jaga volume sekitar 60 persen dari maksimal. Atau batasi beberapa lagu saja bila ingin mendengarkan dengan volume tinggi. Karena kebisingan lingkungan menyebabkan kebanyakan orang mengubah volume terlalu tinggi, beli earphone untuk menghindari itu, namun jaga agar volumenya jangan terlalu tinggi juga.

2. Masalah Pengelihatan

Apakah melihat layar komputer terasa blur?
Apakah melihat layar komputer terasa blur?
Saat layar komputer kantor, komputer rumah dan internet telepon diaktifkan, lebih banyak waktu kita melihat  layar dan itu menambah ketegangan mata, apalagi di zaman serba online dimana membuat kita lebih lama menghabiskan waktu di depan layar komputer atau handphone.
Sekitar 70 persen dari kita yang bekerja pada komputer memiliki beberapa derajat masalah mata, seperti kemerahan, iritasi, pandangan kabur, kesulitan fokus dan sakit kepala ringan, kata American Optometric Association. Ini bukan diagnosis resmi, namun beberapa praktisi menyebutnya gejala " sindrom penglihatan komputer."

Masalahnya berasal dari banyak faktor, seperti posisi yang buruk (memiliki layar komputer terlalu dekat atau terlalu jauh), pencahayaan yang buruk atau terlalu silau , dan kurangnya istirahat dari komputer.
Bahkan tingkat berkedip kita dipengaruhi. Orang biasanya berkedip sekitar 12 kali per menit; saat menggunakan komputer, tingkat berkedip kita berkurang menjadi sekitar 5 kali per menit, menyebabkan kornea dehidrasi.
Sebagai tanggapan, tubuh membuat air mata lebih untuk rehydrate mata, menyebabkan mata berair dan kemerahan, kata dokter mata Ravi Berger, MD, dari University Hospitals Case Medical Center di Cleveland. Kabar baiknya bahwa umumnya tidak menyebabkan kerusakan permanen, kata Dr Berger.
Lindungi Diri Anda: Pastikan cahaya dan jarak yang nyaman untuk mata. Pastikan karakter di monitor terlihat tajam dan merupakan ukuran yang nyaman, kata Dr Hedge. Juga mengikuti aturan 20-20: istirahat 20 detik dari komputer setiap 20 menit.

Jika mata Anda sudah mengganggu, pertimbangkan menggunakan air mata buatan, yang membantu menjaga kelembaban  Atau gunakan saja obat tanpa efek samping : pijat mata perlahan dibawah kelopak (tempat air mata menetes) dan berikan kompres hangat. Tentu saja, jika masalah terus berlanjut, periksa ke dokter mata. mata.


Komputer Membuatku Terus Terjaga!


Para peneliti telah menemukan bahwa cahaya biru dari layar komputer dan perangkat teknologi lainnya memiliki potensi untuk mengubah circadian lock (jam biologis) kita, membuat kita terjaga ketika kita seharusnya tertidur lelap. Bahkan, para ahli mengatakan terlalu banyak terpapar cahaya biru yang dihasilkan teknologi di malam hari bisa mengganggu siklus tidur-bangun. Tentu, cahaya biru lebih menonjol siang hari, sehingga respons tubuh Anda adalah menghasilkan lebih sedikit hormon tidur melatonin.
Lindungi Diri Anda: Idealnya, semua perangkat teknologi jangan diletakkan di kamar tidur, komputer/laptop, pemutar DVD dan TV, kata Sally Ibrahim, MD, dari Cleveland Clinic Sleep Disorders Center. Sebuah penelitian mengetahui pasti  bahwa stimulasi terlalu banyak dari bermain video game atau online internet kepada otak akan mengganggu tidur. Jadi jika Anda mengalami gangguan tidur, berhenti online internet atau main game 2 sampai 3 jam sebelum tidur. "Tubuh kita mengambil isyarat dari alam dan cahaya malam untuk membuat kita menjadi ngantuk dan tertidur, jadi kita perlu pengalaman itu," kata Dr Ibrahim.



Masalah Pegal dan Nyeri pada Anggota Tubuh

Blackberry Thumb Pain
Blackberry Thumb Pain
Kelamaan duduk mantengin layar komputer/laptop bisa mengakibatkan pegal dan nyeri pada leher, punggung, tangan, bahkan kelamaan memakai laptop di pangkuan pria bisa menurunkan kualitas sperma karena suhu panas yang terlalu dekat dengan pabrik sperma. Di Amerika juga ada istilah “Blackberry Thumb” yang artinya ibu jari pegal dan nyeri karena terlalu banyak dipakai untuk ber-BB. 

"Ibu jari tidak pernah dirancang untuk terlalu sering digunakan," kata Tamara James, direktur ergonomi Duke University & Health Sistem. Memang, ibu jari adalah yang paling tangkas diantara semua  jari kita. Perempuan lebih berisiko mengalami sakit ibu jari  dan bahkan carpal tunnel syndrome dari berlebihan pada PDA dan komputer karena retensi cairan periodik (menstruasi, penggunaan pil kontrasepsi, kehamilan).
Selain itu, perempuan hanya memiliki sekitar dua-tiga  otot dari pria, menyebabkan menekan tombol terus menerus adalah suatu pekerjaan ekstra bagi otot, ujar Dr. Hedge.  Di saat social network sedang marak, membalas pesan facebook dan twitter juga tanpa sadar memaksa otot jari terus bekerja keras.
Lindungi Diri Anda: Jelas, menjaga mengetik dengan singkat adalah langkah kunci. Menurut Dr Hedge, peneliti mengetahui bahwa "waktu aman" maksimum untuk penggunaan praktis adalah sekitar dua jam sehari. Dan balasan Anda tetap sederhana. Jangan menggunakan kalimat ketika menggunakan ya atau tidak. Jika Anda sakit, kompres dengan es daerah tersebut. Jika itu tidak membantu atau anda merasa sakit, temui dokter.


Terlalu Terhubung?       
 


Tentu, kita dapat mengawasi anak-anak dan tetap berhubungan dengan teman-teman melalui email dan Facebook. Tetapi menurut penelitian Universitas Stanford,  1 dari 8 orang mengatakan bahwa mereka merasa sulit untuk jauh dari internet selama beberapa hari.

Memang, cinta kita dengan teknologi terbatas pada "kasus ringan gangguan obsesif-kompulsif," kata Robert Leahy, PhD, direktur American Institute for Cognitive Therapy di New York City. "Kita berpikir bahwa jika kita kehilangan sebuah  Dr Leahy mengatakan beberapa pasien bahkan mengganggu sesi terapi mereka sendiri untuk membalas email dan sms. Lainnya khawatir mengapa orang tidak menanggapi email mereka cukup cepat, dunia akan berakhir."
Ada beberapa penelitian awal yang menunjukkan bahwa semua alat kita mungkin akan mengganti hubungan otak kita, meskipun para ilmuwan tidak setuju dengan ini. Teorinya adalah bahwa stimulasi konstan menimbulkan semacam ledakan kegembiraan-a dopamin (merasa- otak Anda menghasilkan zat kimia). Ketika kita tidak mendapat dorongan itu, kita mulai merasa kecewa, jadi kita menginginkan lebih, seperti kecanduan. Pada beberapa orang, yang dapat menyebabkan masalah konsentrasi (karena mereka selalu berhenti untuk memeriksa email dan semacamnya).
Penelitian juga menunjukkan bahwa multitasking menggunakan berbagai wilayah otak. Semakin banyak yang kita lakukan secara bersamaan, semakin keras kerja otak dan semakin tidak efisien, kata Alexander Rae-Grant, MD, associate director of the Cleveland Clinic Lou Ruvo Center for Brain Health.
Lindungi diri Anda sendiri: Menetapkan batas. Coba zona bebas email dan ponsel setelah pulang kerja, antara pukul 18.  dan 21:00, fokus pada keluarga atau anak-anak (atau belajar dan mengerjakan tugas dari guru untuk murid sekolah/mahasiswa). Pertimbangkan bagaimana perasaan orang  rumah saat Anda selalu mengecek email dan online. Lebih baik lagi, tanyakan kepada mereka apakah itu O.K. "Ketika orang-orang mengatakan itu membuat mereka merasa kurang suka, apalagi merasa diacuhkan, itu motivator yang sangat kuat untuk membuat kita berubah," kata Dr Leahy. (Erabaru/art)



pengaruh teknologi terhadap kesehatan


.
Pemakaian Lima Jam Seminggu, Telinga Rawan Cedera

Kebiasaan mendengarkan
portable music player (PMP), seperti MP3 player, bisa membuat telinga cedera. Itu terjadi jika kita terlalu sering memakai earphone atau headphone bervolume tinggi. Berdasar penelitian, efek buruk datang jika menggunakan earphone selama lima jam dalam seminggu. Dampaknya adalah kerusakan permanen pada telinga.

-----------

Kemungkinan terbesar hal itu terjadi pada usia muda. Saat ini mungkin dampaknya belum terlihat, namun kelak akan terasa.

"Mendengarkan pemutar musik personal secara reguler dalam volume tinggi ketika muda sering kali tidak berdampak pada pendengaran. Namun,
kelak kemampuan mendengar bisa menghilang," jelas salah seorang peneliti pada International Herald Tribune.
Senin pekan lalu (6/10), pernyataan itu diberikan sembilan peneliti dari Committee on Emerging and Newly Identified Helat Risks. Bahkan, mereka juga menyatakan bahwa risiko kehilangan pendengaran akan didapatkan di pertengahan usia 20-an.
Apple Computer, produsen iPod, juga terkena dampaknya. Perusahaan milik Steve Jobs itu dinyatakan gagal membuat langkah memadai untuk menghindari risiko kesehatan pendengaran. Hasil penelitian pada 2006 menunjukkan, iPod menghasilkan tingkat suara sebesar 115 desibel (dB). Padahal, beberapa studi menyatakan, mendengarkan musik setingkat itu selama 28 detik mengakibatkan kerusakan di waktu yang akan datang.
Untuk itu, Apple disarankan segera membuat
software penurun kualitas suara hingga ke 100 dB. Pilihan lain, membuat desain headphone yang mampu memblok sebagian keluaran suara dari iPod.
Kabar tersebut bakal merugikan Apple. Bukan hanya
image, namun bisa juga finansial. Penjualan bisa menurun, begitu pula keuntungan Apple. Meski demikian, hasil penelitian itu juga menyatakan bahwa mendengarkan musik berhasil mengusir kebosanan dan kejenuhan rutinitas. Itu juga yang membuat para pengguna mengesampingkan dampak yang diterimanya.
Bagaimanapun, mendengarkan musik melalui media portabel juga menimbulkan dampak lain. Musik bisa mengisolasi pendengarnya dari khalayak ramai. Ketika mengemudi, musik dapat meningkatkan risiko hilangnya pendengaran terhadap situasi sekitar.
Penyebab gangguan pendengaran memang beragam. Bergantung juga pada usia seseorang. Suara terbagi atas beberapa tingkat. Suara ringan untuk dewasa berada antara 25 hingga 40 dB, sedangkan untuk anak-anak 20 sampai 40 dB. Bertingkat semakin tinggi hingga suara terberat berkualitas 90 dB atau lebih yang masih dapat didengar manusia.
Pengukuran hilangnya pendengaran secara persentase dinilai masih kurang akurat. Metode lain untuk mengukurnya adalah menggunakan Hearing in Noise Test (HINT)
Technology. Pengukurannya dilakukan dengan mendengarkan perkataan sebuah sumber. Itu dilakukan dalam lingkungan yang sepi dan ramai.
Tidak seperti uji sinyal pendengaran murni yang hanya dilakukan pada sebelah telinga, HINT Technology dilakukan pada kedua telinga sekaligus.
(yon/bs/kkn)













Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sedemikian pesat telah membawa dampak yang positif dalam era peningkatan kinerja dari berbagai kegiatan yang dilakukan. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi telah digunakan dihampir semua sektor, mulai dari transportasi, perdagangan, ekonomi, manufaktur, pemerintahan, pendidikan, kesehatan hingga pertahanan.
Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, informasi tidak lagi mengenal batas-batas negara, berbagai transaksi ekonomi, perbankan hingga komunikasi tatap muka, dengan siapa saja di belahan bumi manapun dapat berlangsung melalui teknologi ini.
Dua aspek penting dari rekomendasi para pakar di Dewan TIK Nasional (DETIKNAS) yang telah dihasilkan dalam mempercepat pembangunan teknologi informasi dan komunikasi di tanah air. Dua aspek penting tersebut adalah leadership dimana kepemimpinan dalam TIK menuntut komitmen dari para pemimpin pemerintahan, baik dari jajaran pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Aspek kedua adalah infrastruktur informasi nasional dimana aspek ini diperlukan dalam proses pengambilan keputusan yang senantiasa didasarkan pada informasi yang relevan, terkini atau real times, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menyadari akan pentingnya serta semangat untuk membangkitkan inovasi pembangunan TIK di tanah air, sangatlah tepat apabila pendeklarasian program Indonesia, Go Open Source! (IGOS) adalah merupakan upaya dalam meraih kemandirian dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang ditopang dengan tersedianya berbagai pilihan terhadap perangkat lunak (software) yang pada akhirnya dapat dipergunakan oleh masyarakat. Hal ini juga sesuai dengan salah satu Tugas dari DETIKNAS yaitu “Merumuskan kebijakan umum dan arahan strategis pembangunan nasional, melalui pendayagunaan teknologi informasi dan
komunikasi (TIK)”.
Panduan Pendayagunaan Open Source Software ini tentunya diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam perumusan kebijakan umum dan arahan strategis dalam penyiapan blue print dan road map teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia. Dan dengan Buku Panduan ini dapat lebih memudahkan masyarakat dalam mengenal perangkat lunak berbasis open source. Buku panduan ini terdiri atas delapan dokumen yaitu Perangkat Lunak Bebas dan Open Source, Petunjuk Instalasi IGOS Nusantara, Konfigurasi Server Linux, Aplikasi untuk Server, RDBMS (Relational Database Management System): MySQL, Bahasa Pemrograman Open Source, Aplikasi Perkantoran OpenOffice.org, dan CMS, CRM, dan ERP.
Akhir kata, semoga kedelapan Dokumen ini dapat bermanfaat bagi peningkatan kemampuan masyarakat dalam penguasaan teknologi piranti lunak bebas dan open source.
Dengan semangat “Kreativitas Tanpa Batas” dan maju bersama Indonesia, Go Open Source! Kita besarkan produk aplikasi perangkat lunak Indonesia.

.